Monday, July 07, 2008

Beberapa Peraturan Perundangan Terbaru

Update beberapa Peraturan Perundangan terbaru yang sudah keluaer
1. UU Pengelolaan Sampah
2. UU Informasi dan Transaksi Elektronik
3. UU pelayaran
4. UU Kebebasan Informasi Publik

Peraturan Pemerintah 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

bagi rekan-rekan yang membutuhkan PP 26 tahun 2008

Tuesday, July 18, 2006

Tulisan Tentang Air

POWER OF WATER!!!

“Setengah juta pelanggan PT Palyja (PAM Lyonnaise Jaya) terancam tidak akan mendapatkan air selama musim kemarau ini. Bahkan, perusahaan ini belum bisa memastikan sampai kapan kesulitan pasokan air baku terjadi” (www.tempointeraktif.com)

Warga Jakarta mulai merasakan dampak musim kering. Debit air pasokan dari Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) di kawasan perumahan belakangan ini menurun. Bahkan, air yang keluar berwarna kekuning-kuningan dan berbau. (www.metronews.com)

”Krisis air bersih yang terjadi di tanah air kini mulai dirasakan warga pesisir Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Kesulitan air bersih memaksa warga di Kecamatan Kapetakan mengunaka air telaga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.” (www.metronews.com)

Data terbaru yang diperoleh dari Departemen Pertanian kemarin menyebutkan, areal tanaman padi yang puso secara nasional telah mencapai 1.600 hektar dari 59.000 hektar tanaman yang mengalami kekeringan. Potensi produksi padi yang hilang secara kasar diperkirakan mencapai 6.400 ton gabah kering giling atau senilai sekitar Rp 12,8 miliar. (www.kompas.com)

Di Lombok, Nusatenggara Barat, misalnya, sumur-sumur mengering, belum lama ini. Kondisi tersebut memaksa warga di Kabupaten Lombok Tengah berusaha keras mendapatkan air bersih. Seperti warga di Desa Prabu dan Penggempur, Kecamatan Pujut harus berjalan hingga lima kilometer menuju sumur yang masih berisi air. Kesulitan memperoleh air bersih sudah berlangsung sejak dua pekan terakhir. (www.liputan6.com)

Musim kemarau beberapa bulan terakhir memberikan dampak yang besar terhadap ketersediaan air di beberapa pelosok nusantara. Di negara yang gemah ripah loh jenawi, ternyata air bisa menjadi barang langka di kawasan perkotaan dan perdesaan. Hal ini menimbulkan kerugian secara materiil dan in materiil bagi umat manusia direpublik ini..

Tapi tulisan ini tidak akan berbicara banyak soal kekeringan yang terjadi saat ini. Beberapa potongan berita diatas Cuma akan menjadi entry point untuk memotret seberapa pentingnya air untuk kehidupan dan bagaimana kekuatannya. Judul diatas bukan mau ngikutin judul bukunya Masaru Emoto yang judulnya Power of Waters. Tulisan ini mencoba mengeksplorasi apa yang bisa dilakukan oleh Air dan efek yang mungkin muncul. tulisan yang senada pernah gue buat dengan judul alam dan manusia , dan waktu itu mas Johan meminta pendapat gue soal air.

OK seperti biasa (kalo kata ipin khas banget deh) kita akan berbicara mengenai serba-serbi air. Air (rumus kimia: H2O) adalah benda tak berwarna, tak berbau dan tak berasa yang diperlukan oleh semua kehidupan di bumi agar mereka dapat bertahan hidup. Air merupakan jaringan kimia yang berada dalam bentuk cair pada tekanan biasa dan pada suhu kamar. Sekitar 3/4 dari permukaan bumi diliputi air. Bahkan 72% dari berat tubuh kita adalah air.... hmmmmmm menarik juga

Fungsi air dapat dibagi menjadi dua fungsi : fungsi domestik dan fungsi communal (referensi dari gue). Fungsi domestik terkait dengan fungsi air sebagai air minum, sebagai keperluan memasak, mencuci dan lainya yang terkait dengan kehidupan pribadi manusia. Sedangkan air sebagai fungsi komunal seperti untuk pengairan sawah, sumber pembangkit tenaga listrik, bahan produksi di industri dan lain-lain. Fungsi domestik dapat mengangkat dirinya menjadi fungsi communal ketika berhubungan dengan masyarakat sekitarnya, seperti penggunaan sumur bersama, MCK umum, tanki air communal dan lain sebagainya.

Penurunan daya dukung dan kerusakan lingkungan menyebabkan kelangkaan sumber air yang bersih dan dapat diminum. Di era 80-an Kekeringan di Afrika menghiasi berbagai media seperti di ethiopia. Saat ini kekeringan bukanlah mutlak milik negara-negara di Afrika. Kekeringan mulai melanda benua amerika, Asia, dan Eropa. Kekeringan disebabkan oleh pemanasan global yang merubah siklus hidrologi di berbagai kawasan. Bahkan pada tahun 2003, Negara Bagian Texas di Amerika sempat mengalami kekeringan air sehingga diibaratkan air seperti layaknya emas.

Hal ini ditambah lagi dengan polusi industri sehingga menyebabkan penurunan kualitas air hingga ke titik tidak layak minum. Pencemaran di sungai-sungai besar di berbagai benua bukan barang baru lagi. Hal ini menjadi masalah karena banyak dari sungai-sungai tersebut merupakan nafas kehidupan warga di negara tersebut. Sebagaimana kita tahu, bahwa peradaban di beberapa benua dibentuk oleh sungai, seperti India, Cina, Persia (irak), Eropa, dll

Jumlah air yang tidak bertambah malah menurun secara kualitas harus berkejaran dengan jumlah penduduk dunia yang makina hari makin berpacu dan bertambah kaya kacang goreng. Dengan logika sederhana bahwa jumlah air di dunia tidak akan bertambah banyak sebagaimana jumlah penduduk bertambah, maka dipastikan ada satu titik dimana jumlah penduduk lebih banyak dari jumlah air yang bisa digunakan (INGAT!!! Air yang bisa digunakan). Konsekuensinya tentu ada kekurangan air di planet ini..

Ok misal kondisi kekeringan seperti sekarang di Indonesia ini terjadi di dunia. Kita pindahkan kondisi saat ini ke kondisi di dunia. Ketika setiap negara di muka bumi ini mengalami kekeringan air...misal orang amerika gitu ya, ternyata mengalami kekeringan air sama seperti orang-orang di ethiopia atau di somalia...

Jadinya gimana??? Air dapat menjadi komoditas yang dapat dijual saudara-saudara.. misal gini, saat ini minyak harganya US$ 70/barel. Nah di masa depan harga air bisa seharga segitu kalo air sudah mencapai titik jenuh dan tidak bisa mencukupi kebutuhan penduduk di dunia. Prinsip ekonomi sederhana, ketika terjadi kelangkaan sumber daya, maka yang terjadi kemudian adalah air bertransformasi menjadi barang ekonomis.. ya sekarang air memang sudah menjadi barang ekonomis di perkotaan, tapi nanti air akan menjadi barang ekonomi yang dihargai seperti minyak bumi.

Jazirah arab jaman baheula, peperangan yang terjadi antar kafilah dan suku banyak disebabkan karena perebutan rute dagang dan perebutan oasis yang notabebene adalah sumber air di pada pasir. Jazirah arab adalah model kecil peperangan yang terjadi diakibatkan keterbatasan sumber daya air yang berkualitas. Pernah nonton MADMAX?? Film itu menceritakan bagaimana air dan bensin menjadi sumber peperangan dan konflik antara geng di bumi pada masa depan... (beda dengan Waterworld dimana isinya film itu aer semua)

Dalam lampiran yang gue taro di bawah, penulis mencoba menggambarkan bahwa pada tahun 2070 negara saling berperang untuk memperebutkan air. Negara-negara adidaya menyerang negara-negara yang kaya dengan sumber daya air untuk direbut sumber daya airnya bahkan untuk dijual ke negara lain. Saat ini Amerika dan konco-konconya menyerang Irak dan Jazirah arab untuk menguasai sumber daya minyak yang berlimpah di negara-negara ityu. Di masa depan perhatian akan dialihkan ke negara-negara tropis penguasa air seperti Brazil, Indonesia (kalimantan lebih tepatnya), Rusia, dan negara-negara dengan kualitas sumber daya air yang tinggi.

Terlalu bombatis??? Mungkin rekan-rekan berpikir saya agak mengada-ngada.. tapi tanpa sadari hal itu sekarang sudah mulai terjadi. Tentunya tidak dengan mengangkat senjata dan roket nuklir.. itu jalan terakhir yang biasa dipilih oleh negara-negara adi kuasa. Yang saat ini terjadi adalah pengambil alihan sumber daya air melalui agenda privatisasi pengelolaan sumber daya air seperti air minum.. Gue sama sekali tidak anti terhadap privatisasi, apalagi apabila hal itu dapat meningkatkan kualitas pelayanan ke maysarakat yang ujungnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi perlu di waspadai apabila semua sumber daya air dikuasai oleh pihak asing, maka wajar saja dunk apabila keberpihakan swasta bukan kepada rakyat tetapi kepada profit yang akan dihasilkan (FYI : Air minum merupakan salah satu bisnis yang amat menarik dan menguntungkan)

Apabila privatisasi di bidang manajemen pelayanan air minum itu merupakan sebuah cara yang tidak haram apabila output yang ingin dikejar adalah profesionalitas manajemen, peningkatan kualitas air minum dengan tarif yang terjangkau. Yang menjadi salah adalah ketika air dijadikan sebagai sebuah komoditas privat dengan harga yang tidak terjangkau untuk semua kalangan masyarakat. Karena prinsip dari sebuah barang publik adalah tidak tertutupnya akses untuk semua orang untuk mengakses barang tersebut. Dan harga pastinya dapat menutuo akses tersebut

Agak menakutkan ya postingan gue... ya memang begitu..... So, kekeringan di Indonesia hanyalah sebuah indikasi bahwa Bumi ini sudah mulai kekurangan air berkualitas, sehingga air berkualitas merupakan komoditas unggulan yang dapat dijual bahkan menjadi sumber peperangan di masa depan... Jadi berhati-hati lah indonesia. SDA yang melimpah dapat menjadi komoditas unggulan di masa depan, tetapi bisa juga menjadikan negara ini sasaran empuk negara-negara kaya minus air

Ah tur, lo kalo lagi ngayal suka kelewatan....l

-Catuy-

LAMPIRAN

Water in 2070 (imajinasi)

UU 7/2004 tentang SDA

Monday, June 19, 2006

Khalifah di Bumi?

Bukan bermaksud klarifikasi tulisan teman saya bahwa beberapa hari yang lalu saya ‘mengumpat’ lewat status YM saya. “We really don’t deserve this planet!!” Itu bunyinya. Beberapa hari sebelum status itu, saya ‘mengumpat’ juga dengan kalimat “Khalifah di bumi??” Saya hanya ingin berbagi kekesalan. Tentang bangsa saya, tentang ketidakberdayaan saya dalam mengatasi hal-hal yang akhirnya cuma jadi umpatan, dan tentang hal-hal mengenaskan yang saya temui dalam pekerjaan saya.

Saat saya mencantumkan status di YM saya, sebenarnya saya sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh supervisor saya. Saya diminta untuk mencari argumen-argumen ilmiah yang dapat diajukan sebagai penolakan rencana pemerintah untuk mengkonversi lahan seluas 1,8 juta herktar di perbatasan Kalimantan, Indonesia dengan Sarawak, Malaysia. Alasan pemerintah untuk tetap menjalankan rencana itu, yang saya tangkap hanya satu: menyejahterakan masyarakat yang tinggal di perbatasan.

Masyarakat yang tinggal di perbatasan memang sebagian besar (kalau tidak mau dikatakan seluruhnya) masyarakat miskin[i]; seperti umumnya kondisi masyarakat yang tinggal di pedalaman Indonesia. Pembangunan negeri ini, yang menghabiskan hutang dari negeri lain yang mungkin tidak akan pernah bisa terbayar sampai kiamat itu, tidak mampu menjamah daerah mereka. Jangankan yang berada di dalam maupun pinggiran hutan, ketika harus memperbaiki jalan Lintas Sumatera yang notabene berfungsi sebagai salah satu pembuluh nadi transportasi negara ini saja, pemerintah hanya berkomentar, “Akses untuk ke sana sulit. Perbaikan jalan sepanjang itu dalam waktu dekat adalah hal yang sangat tidak mungkin..”

Namun demikian, ketika pemerintah mencanangkan rencana pembukaan lahan sawit, dengan alasan ‘mulia’ itu, yang pertama terlintas dalam kepala saya adalah: “Astaghfirullah... habislah hutan kita!” Apalagi dengan pemberitaan-pemberitaan yang sempat marak (bagi yang memperhatikan) mengenai tidak beroperasinya perkebunan sawit yang dijanjikan setelah hutan dibuka dan seluruh kayunya dijual, entah ke mana.

Hutan habis berarti habitat ratusan jenis hewan dan tumbuhan lain ikut hilang dalam pembersihan hutan. Untuk kasus di perbatasan Kalimantan-Serawak ini, 143 jenis mamalia, 293 jenis burung, 27 jenis reptil dan 240 jenis ikan[ii], hanya di kawasan Kalimantan Barat, terancam hilang juga. Terlalu egois satu jenis makhluk bernama Homo sapiens dalam memenuhi keserakahannya.

Belum lagi kalau kasusnya berujung pada konflik antara hewan-hewan tersebut –umumnya jenis mamalia besar dan langka seperti harimau, gajah atau orangutan yang kelaparan sehingga mencari makan di sekitar permukiman- dengan masyarakat. Untuk kasus ini, biasanya masyarakat tidak punya pilihan lain selain mengusir, bahkan membunuh hewan tersebut karena mengancam keselamatan mereka.

Sekarang pertanyaannya: apakah dengan demikian masyarakat di perbatasan bisa sejahtera? Mungkin iya, kalau uang hasil penjualan kayu dari pembersihan lahan itu larinya ke masyarakat. Tapi sekali lagi, kayu-kayu itu dijual entah ke mana. Karena itu, uangnya juga larinya entah ke mana.

Atau.. mungkin masyarakat bisa sejahtera dengan beralih profesi dari memburu, mengumpulkan makanan serta meladang, menjadi buruh kebun sawit? Kalau dikatakan ya, mungkin pemerintah atau penentu kebijakan itu perlu belajar berhitung lagi mengenai berapa upah yang diterima oleh masing-masing buruh, dan berapa pengeluaran yang mereka perlukan untuk makan. Sebelum hutan ditebang habis, masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhan pangan mereka dari hutan atau ladang. Namun setelah hutan habis, dan lahan berladang mereka terpaksa harus berubah wujud juga menjadi kebun sawit, mereka harus bergantung pada mekanisme pasar yang semakin membuat mereka masuk dalam senarai masyarakat miskin. Sejahtera??

Tak perlu dijelaskan di sini jika setiap ketidakseimbangan dalam alam, sunnatullahnya akan mengarah pada bencana yang pada akhirnya akan menimpa manusia sendiri. Dan yang paling sengsara merasakan bencana akibat hilangnya hutan umumnya masyarakat yang tinggal di dekat hutan yang hilang itu. Sekali lagi, sejahtera??

Sekarang, saya harap ‘umpatan’ saya bisa diterima. Jangankan untuk jadi khalifah yang menjaga seluruh isi bumi. Untuk melindungi jenis kita sendiri pun ternyata kita tidak mampu. Yang saya pahami, status khalifah bukan hak; tapi kewajiban. Karena kalau benar jadi hak, “We really don’t deserve this planet!”


Wallahu a’lam bisshowab



[i] Cerita mengenai betapa miskin dan betapa tidak pedulinya pemerintah terhadap kemiskinan masyarakat yang tinggal di perbatasan dicentang-perenangkan dengan sangat lugas oleh Kompas dalam edisi istimewa 60 tahun Indonesia merdeka; 16 Agustus 2005.

[ii] Jeanes, K., E. Meijaard. 2000. Danau Sentarum’s Wildlife Part 1. Biodiversity Value and Global Importance of Danau Sentarum’s Wildlife. Borneo Research Bulletin Vol 31:150-229

Thursday, June 15, 2006

ekspose manusia

Do we deserve this planet???

Tulisan ini bermula dari “umpatan” temen gue di status YMnya… dia menulis kalimat kurang lebih sama seperti di atas. Gue gak mengklarifikasi statusnya dia. Gue berspekulasi aja bahwa ini pasti kekesalan dia terhadap kelakuan manusia terhadap lingkungan (berhubung dia kerja di salah satu NGO lingkungan).

Premis dasar dari tulisan ini adalah pandangan manusia bahwasanya sebagai “what so called” khalifah atau penguasa di muka bumi ini, maka manusia diberi hak untuk menggunakan alam sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia. Premis itu dianggap benar dan sakti sehingga kata “sebesar-besarnya” diintrepetasikan bahwa manusia boleh menggunakan apa yang disediakan oleh alam ini sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya.... keren kan???

Paradigma seperti ini (kalo kata dosen gue) dikenal sebagai paradigma antroposentris. Pandangan antroposentris yang mendudukkan alam sebagai sistem penunjang utama kehidupan manusia dan manusia sebagai faktor yang sangat tergantung pada alam. Jadi alam yang dieksploitasi oleh manusia dan alam dibutuhkan oleh manusia dalam konteks mencukupi kebutuhan manusia.

Hasilnya gimana?????? Mau tahu... ini ada beberapa data yang berhasil gue kumpulin

Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen [World Resource Institute, 1997]. Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003].

Sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia dengan 2022 korban jiwa dan kerugian milyaran rupiah, dimana 85% dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor yang diakibatkan kerusakan hutan [Bakornas Penanggulangan Bencana, 2003].

Sekitar 65 persen penduduk Indonesia atau sekitar 125 juta jiwa menetap di Pulau Jawa yang luasnya hanya tujuh persen dari seluruh luas daratan Indonesia. Sementara dari sudut potensi air hanyalah 4,5 persen dari total potensi air di Indonesia sehingga menimbulkan benturan kepentingan. (walhi, 2006)

Sebanyak 64 dari total 470 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Indonesia saat ini dalam kondisi yang kritis. Dari 64 DAS kritis tersebut, berada di Sumatera 12 DAS, Jawa 26 DAS, Kalimantan 10 DAS, Sulawesi 10 DAS, Bali, NTB dan NTT 4 DAS, Maluku serta Papua 2 DAS. (walhi, 2006)

Pemantauan terhadap 48 sumur dilakukan di Jakarta pada tahun 2004. Hasil pemantauan menunjukkan hampir sebagian besar sumur yang dipantau telah mengandung bakteri coliform dan fecal coli. Persentase sumur yang telah melebihi baku mutu untuk parameter Coliform di seluruh Jakarta cukup tinggi, yaitu mencapai 63% pada bulan Juni dan 67% pada bulan Oktober. Kualitas besi (Fe) dari air tanah di wilayah Jakarta terlihat semakin meningkat, dimana beberapa sumur memiliki konsentrasi Fe melebihi baku mutu. Presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu Mn di seluruh DKI Jakarta secara umum sebesar 27% pada bulan Juni dan meningkat pada bulan Oktober sebesar 33%. Untuk parameter detergen (MBAS), presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu di DKI Jakarta sebesar 29% pada bulan Juni dan meningkat menjadi 46% pada bulan Oktober.

400 dari sekitar 4,000 industri di Jakarta yang mengelola limbahnya. Tidak ada sistem sanitasi di Jakarta sehingga air limbah seluruhnya dibuang ke sungai. Hanya sekitar 2 % air limbah di Jakarta mengalir ke instalasi pengolah air limbah, yang umumnya hanya melayani gedung perkantoran dan sejumlah perumahan. Sekitar 39% warga Jakarta memiliki septic tank, dan 20 % menggunakan lubang WC biasa (pit latrines).

Hanya sekitar 40 % warga di perkotaan dan kurang dari 30 % warga pedesaaan. yang tersambung dengan jaringan air minum (PAM). Air minum langsung (potabel water) tidak dibangun di Indonesia sehingga air dari keran harus dimasak terlebih dahulu. Bagi warga perkotaan yang tidak terlayani oleh jaringan pipa air minum, sumber air minum berasal dari air tanah, air kemasan, atau dari penjual air keliling.

Pada saat ini, bahan bakar fosil (fossil fuel) masih menjadi tumpuan utama sumber energi, yaitu minyak bumi, batubara dan gas alam. Dalam pemanfaatannya selama ini di Indonesia telah terjadi eksploitasi yang sangat masif yang telah mengakibatkan Indonesia dalam waktu dekat akan mengalami krisis energi akibat habisnya cadangan sumber-sumber energi tak terbarukan ini. Diperkirakan dalam 15 tahun Indonesia akan menjadi net-importer minyak bumi jika pada saat tersebut tidak ditemukan cadangan minyak baru.

sumber energi fosil mengakibatkan pencemaran udara yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit energi tersebut, seperti gas sulfur dioksida (SO2) dan gas-gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida (CO2). Banyak penelitian menyebutkan bahwa GRK telah memicu terjadinya pemanasan global akibat adanya efek rumah kaca. Efek rumah kaca terjadi akibat GRK yang terkumpul di atmosfer membentuk selubung yang menghalangi radiasi panas matahari yang dipantulkan bumi tidak dapat lepas ke atmosfer.

Pertanyaan ini tidak bermaksud untuk mengguat keberadaan manusia lho.. apalagi menggugat keputusan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Yang gue gugat adalah bagaimana manusia memperlakukan alam ini...

Ada sebuah konsep menarik yang pernah disampaikan mengenai hubungan alam dan manusia. Dalam konsep Bumi sebagai sebuah organisme, maka tidak dikenal istilah perusakan terhadap alam. Karena setiap perusakan yang terjadi hanya sebuah istilah yang dibuat manusia, sedangkan alam tidak pernah rusak.”dia” hanya menyesuaikan diri dari tindakan yang dilakukan terhadap manusia. setiap penurunan kualitas terhadap lingkungan hanya dirasakan oleh manusia, yang notabene menjadi katalisator dari perusakan. Sedangkan alam merespon perlakukan manusia dengan penyesuaian (termasuk banjir, longsor, gempa, dll). Alam sendiri tidak pernah merasa dirinya menjadi rusak. Bingung????? Gue juga bingung sebenarnya....

Saat ini mari kita merenungkan posisi kita di bumi ini dan bagaimana kita memperlakukan alam sebagai sebuah organisme.. Karena alam tidak dirugikan dengan kondisi yang ada saat ini. Satu-satunya yang mengalami kerugian dari kondisi ini adalah manusia yang merasakan penurunan kualitas lingkungan yang ada.... terutama anak cucu kita yang tidak mendapat air dengan kualitas yang sama dengan kita saat ini. Begitupula dengan tanah, udara dan lain sebagainya.

-Catur-

dimuat juga di Politika...Dialektika...dan Cinta....