Thursday, June 15, 2006

ekspose manusia

Do we deserve this planet???

Tulisan ini bermula dari “umpatan” temen gue di status YMnya… dia menulis kalimat kurang lebih sama seperti di atas. Gue gak mengklarifikasi statusnya dia. Gue berspekulasi aja bahwa ini pasti kekesalan dia terhadap kelakuan manusia terhadap lingkungan (berhubung dia kerja di salah satu NGO lingkungan).

Premis dasar dari tulisan ini adalah pandangan manusia bahwasanya sebagai “what so called” khalifah atau penguasa di muka bumi ini, maka manusia diberi hak untuk menggunakan alam sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia. Premis itu dianggap benar dan sakti sehingga kata “sebesar-besarnya” diintrepetasikan bahwa manusia boleh menggunakan apa yang disediakan oleh alam ini sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya.... keren kan???

Paradigma seperti ini (kalo kata dosen gue) dikenal sebagai paradigma antroposentris. Pandangan antroposentris yang mendudukkan alam sebagai sistem penunjang utama kehidupan manusia dan manusia sebagai faktor yang sangat tergantung pada alam. Jadi alam yang dieksploitasi oleh manusia dan alam dibutuhkan oleh manusia dalam konteks mencukupi kebutuhan manusia.

Hasilnya gimana?????? Mau tahu... ini ada beberapa data yang berhasil gue kumpulin

Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen [World Resource Institute, 1997]. Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003].

Sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia dengan 2022 korban jiwa dan kerugian milyaran rupiah, dimana 85% dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor yang diakibatkan kerusakan hutan [Bakornas Penanggulangan Bencana, 2003].

Sekitar 65 persen penduduk Indonesia atau sekitar 125 juta jiwa menetap di Pulau Jawa yang luasnya hanya tujuh persen dari seluruh luas daratan Indonesia. Sementara dari sudut potensi air hanyalah 4,5 persen dari total potensi air di Indonesia sehingga menimbulkan benturan kepentingan. (walhi, 2006)

Sebanyak 64 dari total 470 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Indonesia saat ini dalam kondisi yang kritis. Dari 64 DAS kritis tersebut, berada di Sumatera 12 DAS, Jawa 26 DAS, Kalimantan 10 DAS, Sulawesi 10 DAS, Bali, NTB dan NTT 4 DAS, Maluku serta Papua 2 DAS. (walhi, 2006)

Pemantauan terhadap 48 sumur dilakukan di Jakarta pada tahun 2004. Hasil pemantauan menunjukkan hampir sebagian besar sumur yang dipantau telah mengandung bakteri coliform dan fecal coli. Persentase sumur yang telah melebihi baku mutu untuk parameter Coliform di seluruh Jakarta cukup tinggi, yaitu mencapai 63% pada bulan Juni dan 67% pada bulan Oktober. Kualitas besi (Fe) dari air tanah di wilayah Jakarta terlihat semakin meningkat, dimana beberapa sumur memiliki konsentrasi Fe melebihi baku mutu. Presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu Mn di seluruh DKI Jakarta secara umum sebesar 27% pada bulan Juni dan meningkat pada bulan Oktober sebesar 33%. Untuk parameter detergen (MBAS), presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu di DKI Jakarta sebesar 29% pada bulan Juni dan meningkat menjadi 46% pada bulan Oktober.

400 dari sekitar 4,000 industri di Jakarta yang mengelola limbahnya. Tidak ada sistem sanitasi di Jakarta sehingga air limbah seluruhnya dibuang ke sungai. Hanya sekitar 2 % air limbah di Jakarta mengalir ke instalasi pengolah air limbah, yang umumnya hanya melayani gedung perkantoran dan sejumlah perumahan. Sekitar 39% warga Jakarta memiliki septic tank, dan 20 % menggunakan lubang WC biasa (pit latrines).

Hanya sekitar 40 % warga di perkotaan dan kurang dari 30 % warga pedesaaan. yang tersambung dengan jaringan air minum (PAM). Air minum langsung (potabel water) tidak dibangun di Indonesia sehingga air dari keran harus dimasak terlebih dahulu. Bagi warga perkotaan yang tidak terlayani oleh jaringan pipa air minum, sumber air minum berasal dari air tanah, air kemasan, atau dari penjual air keliling.

Pada saat ini, bahan bakar fosil (fossil fuel) masih menjadi tumpuan utama sumber energi, yaitu minyak bumi, batubara dan gas alam. Dalam pemanfaatannya selama ini di Indonesia telah terjadi eksploitasi yang sangat masif yang telah mengakibatkan Indonesia dalam waktu dekat akan mengalami krisis energi akibat habisnya cadangan sumber-sumber energi tak terbarukan ini. Diperkirakan dalam 15 tahun Indonesia akan menjadi net-importer minyak bumi jika pada saat tersebut tidak ditemukan cadangan minyak baru.

sumber energi fosil mengakibatkan pencemaran udara yang dihasilkan oleh pembangkit-pembangkit energi tersebut, seperti gas sulfur dioksida (SO2) dan gas-gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida (CO2). Banyak penelitian menyebutkan bahwa GRK telah memicu terjadinya pemanasan global akibat adanya efek rumah kaca. Efek rumah kaca terjadi akibat GRK yang terkumpul di atmosfer membentuk selubung yang menghalangi radiasi panas matahari yang dipantulkan bumi tidak dapat lepas ke atmosfer.

Pertanyaan ini tidak bermaksud untuk mengguat keberadaan manusia lho.. apalagi menggugat keputusan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Yang gue gugat adalah bagaimana manusia memperlakukan alam ini...

Ada sebuah konsep menarik yang pernah disampaikan mengenai hubungan alam dan manusia. Dalam konsep Bumi sebagai sebuah organisme, maka tidak dikenal istilah perusakan terhadap alam. Karena setiap perusakan yang terjadi hanya sebuah istilah yang dibuat manusia, sedangkan alam tidak pernah rusak.”dia” hanya menyesuaikan diri dari tindakan yang dilakukan terhadap manusia. setiap penurunan kualitas terhadap lingkungan hanya dirasakan oleh manusia, yang notabene menjadi katalisator dari perusakan. Sedangkan alam merespon perlakukan manusia dengan penyesuaian (termasuk banjir, longsor, gempa, dll). Alam sendiri tidak pernah merasa dirinya menjadi rusak. Bingung????? Gue juga bingung sebenarnya....

Saat ini mari kita merenungkan posisi kita di bumi ini dan bagaimana kita memperlakukan alam sebagai sebuah organisme.. Karena alam tidak dirugikan dengan kondisi yang ada saat ini. Satu-satunya yang mengalami kerugian dari kondisi ini adalah manusia yang merasakan penurunan kualitas lingkungan yang ada.... terutama anak cucu kita yang tidak mendapat air dengan kualitas yang sama dengan kita saat ini. Begitupula dengan tanah, udara dan lain sebagainya.

-Catur-

dimuat juga di Politika...Dialektika...dan Cinta....

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home